Aksi Puasa Peduli Suku Asmat Indonesia Food Bank

Konseling Gizi Dalam Rangka Hari Gizi Nasional ke 58
February 3, 2018
Laporan Aksi Puasa Peduli Asmat
March 1, 2018

 

IFB– 71 orang meninggal akibat wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua   (31/01/2018). Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh mengatakan, dari 71 orang yang meninggal tersebut, kebanyakan adalah anak balita. Penyakit campak komplikasi beratnya adalah infeksi pada saluran pernapasan bagian bawah, yang dapat menyebabkan gagal napas, gagal jantung, sehingga akhirnya meninggal. Sementara Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat menuturkan kementerian menaikkan status di wilayah Asmat sebagai bencana rawan pangan -atau bencana kelaparan. (sumber: kompas.com)

(bbc indonesia image)

Wabah campak disertai gizi buruk telah terjadi sejak bulan September, tahun lalu. Tercatat kala itu sebanyak 61 anak meninggal dunia.  Jumlah ini terus bertambah yang hingga kini menjadi 71 anak. Mengingat wabah terjadi di 224 kampung, Kabupaten Asmat belum semua daerah terjangkau oleh tim medis RSUD Asmat. Kemiskinan yang terjadi menyebabkan anak-anak asmat kekurangan gizi. Tak bisa dibayangkan ratusan bahkan ribuan anak tumbuh tanpa asupan gizi yang cukup. Belum lagi lingkungan tempat tinggal mereka yang kotor dan gaya hidup yang kurang bersih, menjadi pemicu utama penyebaran wabah campak.

(aksi cepat tanggap image )

Dilansir dari ACT Indonesia, pemerintah setempat sudah membuat tim medis untuk menyelamatkan nyawa anak-anak di Papua. Bantuan berupa pengobatan dan imunisasi serta pemberian vitamin A untuk mencegah penyebaran campak. Namun, belum semua wilayah terjangkau mengingat medan menuju lokasi sangatlah sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Tak luput uluran tangan dari berbagai elemen masyarakat dimulai dari relawan komunitas, lembaga swadaya maupun pemerintah yang giat memberikan support kepada anak-anak Suku Asmat untuk bersama-sama melawan gizi buruk dan kelaparan yang mereka alami.

Lifestyle okezone image

Cuitan dari komika Arie Kriting yang mengungkapkan rasa frustrasinya akan perhatian terhadap krisis kesehatan di Agats, Papua yang dianggapnya kurang tanggap di media sosial yang kini menjadi viral. Dikutip dari BBC Indonesia, Arie mengatakan, ada ‘kesenjangan empati’ dari warganet terkait wabah campak dan kelaparan yang terjadi di Agats dengan pengumpulan dana untuk isu-isu lain yang dianggap lebih dekat. Dalam cuitannya, Arie membandingkan pengumpulan dana untuk krisis kesehatan di Agats dengan pengumpulan dana saat warteg milik seorang ibu, Saeni, yang dirazia oleh Satpol PP pada di Kota Serang, Banten, pada bulan Ramadhan, Juni 2016 lalu.

Sentimen yang dirasakan Arie itu dibenarkan oleh dosen Ilmu Politik Universitas Cendrawasih, Marinus Yaung. Menurutnya, “Kami berpandangan bahwa kami itu warga negara kelas dua di negara ini sehingga apa yang terjadi dengan isu kemanusiaan di Papua itu seperti itu bukan isu nasional. Itu isu daerah yang tidak perlu mendapat perhatian nasional, ini yang perlu kita selesaikan dengan pemerintah pusat.” “Kalau ini terjadi di Jawa pasti akan sangat berbeda, bagaimana masyarakat menyoroti pemerintah untuk tegas, bagaimana mereka menggalang dana, pasti akan sangat jauh berbeda,” kata Arie lagi.

Melihat dari realita yang ada, Papua seakan memiliki kesenjangan empati dibandingkan dengan wilayah lainnya. Padahal pembangunan utama bukan hanya mencakup infratruktur  saja, melainkan sumber daya manusia baik dari aspek kesehatan yang  kini lebih dikrucutkan dengan adanya kasus gizi buruk yang menjadi persoalan sosial dengan dampak yang semakin membesar. Kasus gizi yang memakan korban hampir 100 orang dari kalangan anak-anak ini bukanlah kasus yang pertama kali terjadi.  Pada tahun 1980-an kasus ini sudahlah terjadi di Papua. “Bahkan yang lebih sedih lagi di masa itu, banyak bayi-bayi, anak-anak, meninggal dalam kesunyian. Tidak ada orang yang tahu, tidak ada pemerintah yang membantu, tidak ada media yang mempublikasikan.”jelas Adriyana.

Menyikapi permasalahan sosial yang dihadapi Suku Asmat, Tim Indonesia Food Bank berinisiatif melakukan “Aksi Puasa” sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak Suku Asmat atas musibah yang terjadi dengan turut merasakan penderitaan gizi buruk dan kelaparan di Papua.  Aksi ini dilaksanakan serentak pada hari Kamis tanggal 15 Februari 2018.

 

Donasikan uang saku teman-teman saat Aksi Puasa #SatuHariBersamaAsmat ke:

Bendahara Indonesia Food Bank

Bank Syariah Mandiri

710-725-2341 a.n Miatul Chumro (sertakan angka 777 saat mendonasi untuk memudahkan kami untuk melacaknya)

Konfirmasi donasi: via WhatsApp 0896 4354 5129 (Ardiansyah)

 

Mari bantu selamatkan adik-adik kita di Papua dari gizi buruk dan kelaparan yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawa mereka. Mari bersama-sama menyisakan satu hari melakukan puasa sebagai bentuk kepedulian kita atas musibah yang dialami saudara-saudari kita di Papua. Mari salurkan donasi terbaik kita untuk melawan Gizi Buruk dan Kelaparan di Bumi Pertiwi.  TogetherWeFightHunger.

Tim Admin
Tim Admin
Banten Food Bank adalah komunitas yang berfokus pada isu kelaparan dan gizi buruk yang ada di Banten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *